Senin, 21 Desember 2015

CERPEN "PENYESALAN SEORANG AYAH"



PENYESALAN SEORANG AYAH

Senja akan berkunjung di bumi dan Semelir angin pun meniup tubuhku,bagaikan memberi suatu pertanda padaku yang akupun tak tau entah pertanda apa itu.
Tiba2 aku tersentak dari lamunanku,ya aku baru menyadari bahwa magrib telah tiba dengan dikumandangkannya azan di masjid dekat rumahku.
“wika”terdengar suara ibuku,
“iya bu,ada apa?”tanyaku.tiba2 tangan ibuku menggapai telingaku.
“aduhh,sakit bu”sahutku,karena ibu menjewer telingaku.
“sakit nak? Makanya kalo ibu bicara itu didengarkan.bukankah dari tadi ibu menyuruhmu mandi ?”jawab ibuku sembari melepas tangan nya dari telingaku.
“iya bu,maaf deh.ya udah aku mandi dulu ya.”aku pun pergi menjauh dari ibuku dan bergegas mengambil handuk untuk mandi.
Setiba nya dikamar mandi ternyata ayahku sedang mengambil wudu’,dan akupun harus menunggu.
Setelah ayah ku selesai ,aku bergegas masuk ke kamar mandi tanpa menoleh ke arah ayahku.
“mandi nya yang cepat ya nak,biar kamu bisa sholat magrib.”kata ayah padaku sembari pergi untuk sholat.
“iya,”jawab ku ketus karena aku memang dari dulu membenci ayah,semenjak kakak laki2 ku yang satu2 nya  pergi meninggalkan kami untuk selama2nya.
Kakak ku meninggal karena kecelakaan motor,setelah sebelumnya bercekcokan mulut  dengan ayah.
Pertengkaran dimulai karena ayah tidak mau menuruti kemauan kakak yang ingin kuliah di jurusan teknik mesin di universitas negeri yang ada dikotaku,ayah menyuruhnya untuk kuliah di salah satu universitas islam yang ada dikotaku dan mengambil jurusan pendidikan agama islam seperti ayah.kakakku menolak karena dia tidak mau menjadi seorang guru,tetapi ayahku tetap memaksa.
“ayah tidak mau tau,kamu harus ikuti kemauan ayah “bentak ayah kepada kakakku
“tidak yah,aku tidak mau mengikuti jejakmu,aku tidak ingin menjadi seorang guru,tapi aku mau menjadi seseorang yang bisa menciptakan sesuatu yang bisa berguna bagi kehidupan masyarakat”jawab kakakku
“terserah,jika kamu tidak mau mengikuti kemauan ayah,tidak ada yang namanya kuliah buat kamu”sahut ayah
“terserah ayah,aku capek yah.dari kecil aku selalu mengikuti kemauan ayah,aku tidak pernah membantah kata2 ayah.kata2 ayah selalu aku dengarkan dan aku ikuti,walaupun terkadang kemauan ayah bertentangan dengan jiwaku yah.”kata kakakku sambil terisak2
“sekarang aku sudah besar yah,apa salah aku ingin menjalani kehidupanku dengan kemauan ku sendiri ? “lanjut kakak sambil mengusap air mata nya
”setiap apa yang aku kerjakan selalu salah dimata ayah,ayah selalu memaksakan kehendak ayah padaku.apa kurang yah selama 19 thn ayah memaksakan kehendak ayah padaku dan selalu aku ikuti tanpa bantahan dari mulut ku?” Lanjut nya lagi
“sekarang aku sudah besar yah,ijinkan aku memilih jalan hidupku sendiri yah tanpa paksaan dari orang lain.aku mohon yah ? “lanjut nya sambil mengambil kedua tangan ayah dan menciumnya
Aku dan ibu hanya bisa terdiam,dan saat aku menoleh ke ibu,bulir2an air mengalir dipipi mulus nya.
“ibu,apa salah kakak ingin memilih jalan nya sendiri? Tanpa paksaan dari orang lain?”tanya ku sembari memeluk tubuh mungil ibu.
“tidak salah nak,hanya saja ayah kalian selalu memaksakan keinginan nya kepada kakakmu.dan kakakmu selalu mengikuti kemauan ayah tanpa ada bantahan dari mulut nya.kakak mu itu sangat sabar menghadapi ayah yang overprotektif  kepada anak2nya”jawab ibu sembari membalas pelukan dariku
“TIDAK!!!” kata ayahku dengan suara yang mengeras dan melepaskan tangannya dari genggaman kakak.
“sekali tidak,tetap tidak.siapa yang tidak mau mendengarkan kata2ku,berarti dia bukan anakku.bagi yang tidak suka silahkan keluar dari rumahku”lanjut ayah
Kamipun terkejut saat mendengar kata2 yang ayah ucapkan itu,seakan2 mengusir kakak secara tidak langsung.
Keadaan pun hening,seakan2 tidak ada nafas yang hidup dirumah ini.
Setelah beberapa menit keadaan rumah hening,
“baik lah,jika itu memang keputusan ayah.maaf yah adit udah nggak bisa lagi mengikuti kemauan ayah.sekali lagi maafin adit ya yah.”kata kakakku
“adit pergi”lanjut kakakku sambil melangkah pergi keluar rumah
“kak adit mau pergi kemana kak?”tanyaku
“jangan tinggalin rumah kak,jangan tinggalin ibu juga ayah kak.”lanjutku
Kak adit melangkah ke arah ku sambil tersenyum,dia memelukku
“jaga ayah dan ibu ya dek,jangan pernah bantah kata2 mereka,”jawab kak adit
“buat ayah dan ibu bangga,karena kakak tidak bisa mengikuti kemauan ayah lagi.kakak sayang sama kalian”lanjutnya sambil mencium kening ku.
Lalu kakakku melangkah menuju ibu,dan kakak memeluk ibu.
“adit pamit ya bu,adit sayang sama ibu”bisiknya ditelinga ibu.
Seakan2 dia akan pergi jauh dan tidak akan kembali lagi.
dan ayah masih terdiam kaku ditempat sebelumnya ia berada.
Entah apa yang ada dipikiran ayah saat itu,entah menyesal dengan ucapan nya atau malah sebaliknya akupun tak tau.
Kak adit melangkah pergi dan menghilang dari pandanganku.
Ia membawa motor kesayangan nya,dan kami tidak tau kemana kak adit akan pergi.
Dirumah suasana hening masih berlanjut,aku pergi kekamarku dan ibu masih ditempat yang sama ,sedang terisak menangis memikirkan anak laki2 satunya itu pergi.ibu memikirkan dimana kak adit akan tidur karena saat itu hari sudah larut malam,sekitar pukul sebelas lewat lah.
Ayah masih duduk di sofa ruang tamu sendirian,karena ibu sudah tidur duluan denganku dikamarku.
“KRINGG,KRINGG,KRINGG”bunyi telepon rumah ku yang berada diruang tamu.
Aku terbangun dan keluar kamar menuju ruang tamu untuk mengangkat telepon itu.
Saat itu mataku tertuju pada ayahku yang tertidur pulas di sofa seakan2 tak ada masalah yang terjadi sebelum nya.
Tapi aku bergegas mengangkat telepon itu,
“selamat malam,apa ini benar kediaman pak adit saputra?” tanya seorang wanita melalui teelpon yang aku angkat itu
“iya benar mbak,ini dengan siapa ya? Dan ada keperluan apa Dengan kak adit ?”tanyaku pada wanita itu
“maaf mbak,sebelumnya.saya dari rumah sakit citrahusada ingin memberi tahu keluarga pak adit bahwa pak adit kecelakaan,dan sekarang ada dirumah sakit kami.dimohonkan kepada keluarga pak adit supaya cepat datang kesini,”kata susternya
Akupun terdiam,jiwaku seakan terpisah dengan rohaniku.seakan tak percaya apa yang aku dengar barusan.
“hallo mbak,saya tutup telepon nya.diharapkan keluarga pak adit cepat kerumah sakit”lanjut suster itu
“tut....tut.tutt...”bunyi telepon rumahku saat diputuskan oleh suster itu
Aku tersentak dan aku menjerit,
“KAK ADIT” jeritku,sehingga ayah dan ibu terbangun dan berlari kearahku.
“ada apa wika,jerit2 ditengah malam seperti ini”kata ayah
“kak adit kenapa nak?”sambung ibuku,akupun menangis dan terbata2 mengatakan bahwa kak adit dirumah sakit.”kak adit kecelakaan yah,bu.sekarang ada dirumah sakit citra husada”kataku.
“ya tuhan”sahut ibuku.
Ayah langsung mengambil kunci mobil dan kamipun bergegas kerumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit,susternya mengantarkan kami ke ruangan kak adit.
Dan betapa terkejutnya kami,saat melihat ruangan dimana kak adit berada.
“kamar mayat!”kata ibu,tubuh ibu jatuh ke lantai dan para suster membantu membangun kan ibu yang shock.
Ayah masih berdiri didepan pintu kamar mayat,seakan berat  melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam ruangan itu.
Aku pun masih termenung,seakan tak percaya apa yang keluargaku alami ini.
Bahkan batinku tidak mau  menerima semua kenyataan ini.
“ADIT!”jerit ayah,dan lamunan ku buyar seketika setelah mendengar jeritan ayah.
Saat aku dan ayah memasuki ruangan itu betapa hancur hatiku saat melihat kakak tersyangku terbujur kaku dengan kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya.
“nak,bangun sayang.jangan tinggalkan ayah nak”rengek ayah sambil memeluk tubuh kak adit yang sudah tak bernafas lagi itu.
Namun hatiku menolak mentah2 fakta bahwa kak adit sudah tiada didunia ini,
“kak ayo bangun kak,wika mau kakak buatin makanan kesukaan wika lagi kak.wika mau main kejar2an lagi,wika mau dipeluk kakak lagi.ayo kak bangun,bangun kak.kak adit...”kataku sambil menangis  dan tidak mau menerima kenyataan bahwa kak adit sudah tiada.
Sambil melangkah pelan2 ibu masuk ruangan itu,lalu ibu memeluk jasad kak adit.lalu ibu mencium kening nya.
“ibu tidak tau nak,bahwa tadi adalah pelukan terakhirmu untuk ibu,ciuman terakhirmu untuk ibu.seandainya ibu tau ibu tak akan melepaskan pelukanmu nak.”kata ibuku sambil memandangi wajah anak laki2nya itu yang masih tertinggal sisa darah di wajahnya.
Ku pandangi wajah kakakku,saat itu lah timbul kebencian yang besar dari hatiku kepada ayahku.
Pemakaman kak adit berjalan lancar,tetapi luka dihati keluarga ku masih sangat dalam.
Rumah sepi,karena tidak ada lagi suara nyanyian merdu dari kakakku yang setiap pagi selalu membangunkan adiknya yang manja.
Ibu pun selalu menangis,tiada hari tanpa menangis bagi ibuku..
Tetapi ayah malah kelihatan sangat santai setelah seminggu kepergian kak adit.
Sejak saat kak adit pergi untuk selamanya,ayah merubah sifat ego nya.
Namun bagiku itu sudah terlambat,kak adit sudah tidak ada lagi,jadi percuma ayah melakukan semua itu.kak adit tidak akan kembali lagi didunia ini.
tiga tahun pun berlalu setelah kepergian kak adit.semua kehidupan dirumahku pun mulai membaik.walaupun belum seluruhnya.namun entah mengapa kebencianku kepada ayah belum hilang.seakan tak ada kata maaf buat ayah.
Akupun lulus dari SMA,aku pikir ayah masih menekankan kemauannya kepada anaknya.
Namun setelah aku lulus,
“nak,kamu mau kuliah dimanapun,jurusan apapun itu ayah tidak akan melarang, ayah pasti mendukungmu.”ujar ayahku sambil menepuk bahuku
Akupun terkejut dengan pernyataan ayahku itu.”iya yah,makasih ya yah udah ngebebasin wika buat pilih apapun itu cita2 wika.”jawabku.
“iya nak,ayah tidak mau kesalahan yang sama terulang kembali.karena kamu sekarang anak satu2nya ayah dan ibu,jadi ayah tidak mau kehilangan kamu juga”ujar ayah
“iya sayang,silahkan pilih cita2 kamu sendiri,ibu jaamin nggak akan ada lagi yang namanya pemaksaan kehendak dirumah ini.ibu jamin itu.”ujar ibu sambil memelukku
Dan akupun tertawa mendengar pernyataan ibu yang seakan2 mengolok ayah.
“iya deh ayah janji nggak akan terulang lagi.ayah janji mau berubah dan memulai hidup baru dengan kalian berdua walaupun adit sudah tidak ada lagi disamping kita”kata ayah sambil ikut memeluk tubuhku
“iya yah,iya bu.wika sayang kalian.”
Semenjak itu,kehidupan baru keluarga ku pun berjalan.
Rasa benciku terhadap ayah mulai perlahan hilang dengan sendirinya,karena niat dari hati ayah yang ingin merubah sifat ego nya itu.
Walaupun sebenarnya jauh didalam lubuk hati kami,sangat merindukan sosok lelaki yang menyayangi ayah,ibu dan adik perempuannya melebihi dirinya sendiri.
Malam ini kulihat langit yang penuh bintang,akupun tersenyum melihat betapa indah nya bintang itu.
“terima kasih kak,kakak mampu menyadarkan ayah betapa tidak baik nya sifat ego itu.terima kasih kakak sudah membuat ayah berubah menjadi seorang ayah yang baik dan peduli pada anak2 nya.aku percaya kakak pasti bahagia di atas sana.aku bangga pada kakak yang membawa perubahan yang sangat besar dikeluarga kita kak.miss you kak” ujarku dalam hati saat melihat bintang2 dilangit malam ini sambil tersenyum..
“aku sayang kakak”jeritku sambil melihat bintang di langit dan aku percaya kakak bisa mendengarku saat ini....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar